WASHINGTON DC – Strategi pengelolaan ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai mendapat sorotan positif di panggung internasional.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa sejumlah lembaga keuangan dunia, mulai dari IMF, Bank Dunia, hingga lembaga pemeringkat kredit, menunjukkan ketertarikan besar terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia.
Dalam rangkaian agenda kerja di Washington DC, Amerika Serikat, Menkeu Purbaya melakukan serangkaian pertemuan strategis. Selain bertemu dengan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, Menkeu juga berdiskusi dengan petinggi Bank Dunia serta perwakilan S&P Global Ratings.
Menjawab Keraguan Investor Global
Sebelum tiba di Washington, Menkeu telah lebih dulu menemui 18 investor kelas kakap di New York, termasuk nama-nama besar seperti Goldman Sachs, Fidelity Investments, hingga BlackRock. Fokus utama mereka adalah memahami bagaimana Indonesia menjaga keseimbangan antara ambisi pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan APBN.
“Mereka ingin memahami apakah strategi pertumbuhan dan pengelolaan anggaran kita kredibel serta berkelanjutan. Kami sampaikan kebijakan ini secara komprehensif, termasuk dampaknya terhadap fundamental ekonomi nasional,” ujar Purbaya dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, keraguan yang sempat muncul terkait disiplin fiskal Indonesia kini mulai terkikis. Respons dari lembaga internasional sangat positif, terutama pada kemampuan pemerintah mendorong akselerasi pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas anggaran negara.
Kondisi Fiskal Solid dengan Bantalan Rp420 Triliun
Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian harga energi global, Menkeu menegaskan bahwa posisi Indonesia sangat aman. Salah satu poin krusial yang dipaparkan kepada IMF adalah keberadaan buffer atau bantalan anggaran yang mencapai angka fantastis.
“Indonesia memiliki kondisi fiskal yang solid dengan bantalan anggaran sekitar Rp420 triliun. Hal ini membuat kita mampu menyerap shock atau tekanan eksternal, seperti lonjakan harga minyak akibat konflik global,” tegas Menkeu.
Ketahanan ini membuat Indonesia berada dalam posisi yang berbeda dengan banyak negara lain. Menkeu menyebut, meski IMF siap memberikan dukungan bagi negara yang membutuhkan bantuan di masa sulit, Indonesia saat ini tidak membutuhkan hal tersebut karena fundamental yang terjaga kuat.
Optimisme Aliran Modal Masuk
Selain apresiasi terhadap kebijakan makro, Menkeu juga mencatat adanya minat tinggi dari investor Amerika Serikat terhadap instrumen sektor keuangan Indonesia. Meski saat ini didominasi oleh investasi portofolio (fixed income dan equity), ia optimistis hal ini akan menjadi katalis positif bagi pasar modal dalam negeri.
Pihak Bank Dunia bahkan menyatakan ketertarikannya untuk memperdalam kolaborasi dengan Indonesia. Fokus kerja sama ke depan mencakup program pembangunan jangka panjang, pengentasan kemiskinan, serta pembiayaan berbagai proyek strategis nasional.
Berikut adalah beberapa raksasa investasi global yang turut hadir dan berdialog dalam pertemuan di Washington DC:
- Fidelity
- Goldman Sachs Asset Management (GSAM)
- Eaton Vance
- MFS Investment Management
Dengan pengakuan dari lembaga-lembaga kredibel dunia ini, optimisme terhadap keberlanjutan ekonomi di era pemerintahan Presiden Prabowo diharapkan semakin memperkuat posisi tawar Indonesia di mata para pemodal internasional.


