JAKARTA, jakrev.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyatakan komitmennya dalam menjaga kondusivitas ibu kota dari segala bentuk premanisme.
Hal tersebut ditegaskannya menyusul insiden pemalakan yang menyasar para pedagang kecil dan sopir transportasi umum di kawasan Tanah Abang yang sempat menghebohkan publik.
Menurut Pramono, Jakarta tidak boleh menjadi tempat yang menakutkan bagi masyarakat yang tengah berjuang mencari nafkah secara sah. Dia pun memastikan bahwa tindakan premanisme tersebut telah direspons cepat oleh pihak berwajib.
Gerak Cepat Aparat Amankan Pelaku
Pramono mengungkapkan bahwa oknum-oknum yang terlibat dalam aksi pemalakan di Tanah Abang, sebagaimana yang terekam dalam video viral belakangan ini, telah berhasil ditangkap.
“Kemarin yang melakukan pemalakan baik itu kepada pedagang maupun bajaj, sudah ditangkap semua,” tegas Pramono seperti dikutip dari laman resmi Pemprov DKI pada Rabu (15/4/2026).
Langkah penegakan hukum ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak membiarkan adanya gangguan keamanan yang merugikan produktivitas ekonomi warga, terutama para pelaku usaha mikro.
Larangan Keras Pungli di Ruang Publik
Selain menindak premanisme, Gubernur juga menyoroti masalah pungutan liar (pungli) yang sering membayangi aktivitas warga di lapangan.
Pemprov DKI Jakarta pun secara terbuka memberikan dukungan penuh kepada kepolisian untuk melakukan pembersihan secara menyeluruh.
“Pemerintah DKI Jakarta memberikan dukungan sepenuhnya untuk hal yang seperti ini tidak boleh terjadi lagi,” lanjutnya.
Dukungan tersebut mencakup koordinasi lintas sektoral agar titik-titik rawan premanisme di Jakarta mendapatkan pengawasan lebih ketat melalui patroli rutin maupun optimalisasi teknologi pengawasan.
Jakarta Aman bagi Semua Warga
Menutup pernyataannya, Pramono kembali menegaskan bahwa posisinya sebagai Gubernur adalah menjamin perlindungan bagi seluruh warga Jakarta tanpa terkecuali. Dia berharap tidak ada lagi intimidasi yang merusak tatanan sosial dan ekonomi di ibu kota.
“Jadi saya sebagai Gubernur Jakarta termasuk memberikan support untuk mengambil tindakan tegas premanisme kepada siapa pun di Jakarta ini,” ucapnya mengakhiri.
Aksi pemalakan yang terjadi di Tanah Abang sebelumnya diketahui melibatkan intimidasi fisik dan perusakan barang milik pedagang bakso serta sopir bajaj karena menolak membayar sejumlah uang setoran.
Kini, dengan penangkapan para pelaku, diharapkan kawasan pusat grosir tersebut kembali kondusif bagi para pedagang maupun pengunjung.


