EKONOMI

Kerugian Transaksi Bisnis Akibat Banjir Awal Tahun diperkirakan Mencapai 1 Triliun

Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Sarman Simanjorang. (dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Bencana banjir ekstrim yang melanda DKI Jakarta dan sekitarnya membuat berbagai aktivitas bisnis lumpuh total. Perputaran uang selama libur tahun baru yang diperkirakan melonjak tajam dan akan mampu menopamg pertumbuhan ekonomi tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Sarman Simanjorang mengatakan banjir yang terjadi pada 1 Januari sangat memukul pelaku usaha di berbagai sektor, seperti ritel, restoran, hotel, pariwisata, jasa transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.

“Kerugian transaksi atau perputaran uang akibat banjir Jabodetabek diperkirakan mencapai Rp1 triliun,” kata Sarman dalam keterangan resminya yang diterima Jakarta Review, Selasa (14/1/2020).

Sarman menjelaskan sekitar 400 toko ritel terkena dampak langsung tidak bisa buka melayani pelanggan. Sarman mengasumsikan jika satu toko memiliki pelanggan sekitar 100 orang dikali 400 toko jumlah pelanggan 40.000 dengan asumsi belanja rata-rata Rp250.000 maka kerugian diperkirakan mencapai Rp10 miliar per hari.

Kerugian tersebut belum termasuk toko ritel yang ada di dalam mal dan pasar tradisional. Pasalnya, ada sekitar 82 mal di Jabodetabek dengan rata-rata jumlah pengunjung saat libur Tahun Baru 2020 mencapai 5000 orang.

Apabila, biaya yang dikeluarkan konsumen untuk belanja, makan, dan minum minimal Rp200 ribu maka transaksi mencapai Rp82 miliar.

“Jika pengunjung turun sekitar 50% maka kerugian transaksi dari mall saat banjir Rp41 miliar untuk satu hari,” ujarnya.

Lebih lanjut, mengacu pada data Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia DKI Jakarta terdapat 28 pasar tradisional yang terkena imbas banjir dengan jumlah pedagang sebanyak 250 orang per pasar. Adapun, total pedagang 7.000 pedagang. Jika rata-rata penjualan sekitar Rp500 ribu pedagang maka kerugian transaksi mencapai Rp3,5 miliar.

Sarman mengatakan sektor pariwisata merupakan pusat hiburan di Jakarta yang sangat banyak dikunjungi warga Jabodetabek saat liburan tahun baru seperti Ancol, Kota Tua, Monas, TMII, Kebun Binantang Ragunan.

“Setiap tahun biasanya dikunjungi ratusan ribu orang. Namun, akibat banjir pengelola mengalami penurunan antara 50%-70 %. Ini nilainya sangat besar, belum lagi pelaku UMKM yang berjualan di sana,” ucapnya.

Peluang Usaha Paska Banjir

Banjir pada umumnya akan merugikan dunia usaha dan warga pada umumnya namun bagi usaha sector tertentu dampak banjir ini meraup omzet yang cukup besar seperti Bengkel Motor dan Mobil, service elektronik seperti (kulkas,TV,Dispenser), laundry, jasa pembersih karpet, sofa, tempat tidur,dll. Juga industri mengalami permintaan yang tinggi seperti produsen spare part mobil/motor, oli, alat kebersihan (sapu, pengky, serokan, alat pel, selang, sikat lantai dll) juga makanan dan minuman seperti ; beras, mie instan, minyak goreng, biscuit dan air mineral termasuk restoran siap saji. Dari pengamatan yang kami lakukan banyak antrian di Bengkel mobil dan motor dan kehabisan spare part yang dibutuhkan.

Harapan Pelaku Usaha

Menghadapi ancaman banjir ekstrim seperti ini kami butuh solusi bukan polemik.Kami menyayangkan adanya pro kontra saling menyalahkan dan membanding bandingkan oleh segelintir orang apalagi dikait kaitkan dengan kepentingan politik.

Pelaku usaha dan masyarakat Jakarta sudah cerdas dan tidak akan terprovokasi dengan berbagai pendapat yang bernada miring, karena yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi bukan perdebatan yang tidak cerdas.

“Ini adalah siklus alam, siapapun tidak bisa menduga secara pasti. Kami mendukung penuh langkah taktis dan strategis yang akan dilakukan Pemprov DKI Jakarta dengan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah penyanggga Bodetabek agar dapat merumuskan Bersama strategi yang akan dilakukan sehingga kita mampu mengurangi dan menghadapi ancaman banjir ke depan agar tidak mengganggu aktivitas bisnis dan masyarakat. Semoga para pemimpin kita dapat memiliki persepsi yang sama dalam menghadapi permasalahan ini,” tutur Sarman.

Kami juga tegaskan bahwa kami tidak akan melakukan gugatan apapun  kepada Gubernur Provinsi DKI Jakarta.

“Jika ada kelompok dunia usaha yang melakukan itu sah sah saja akan tetapi sangat disayangkan karena ini adalah siklus alam yang susah untuk diprediksi. Lebih cerdas mengedepankan dialog, memberikan masukan, saran dan pandangan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir dimasa yang akan datang,”tandas Sarman. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close